Filsafat
itu ada dimana-mana dan sangat dekat dengan kehidupan kita. Filsafat itu
bertingkat-tingkat, dari material, formal, normative, dan spiritual. Puncak
tertinggi dalam berfilsafat adalah aspek spiritual. Berfilsafat adalah
bagaimana penjelasanmu, seberapa jauh uraianmu itu. Tapi tidak menjelaskan
bahwa itu penjelasan, bukan penjelasan tapi penjelasan. Binatang, tumbuhan,
batu yang berpikir itu seperti apa. Batu cenderung di bawah, pasir di atas
selalu begitu. Batu besar cenderung sulit hanyut. Jadi pikiran para batu adalah
kodratnya. Hukum alam itu pikiran para batu. Hukum alam ada sifat, naluriah.
Karena suatu hal, keadaan. Keadaan satu menarik keadaan lain. Keadaan menimpa
atau keadaan yang ditimpa. Setiap saat kita menimpa atau ditimpa. Maka sebenar-benar
hidup adalah sifat.
Sebenar-benar
hidup adalah ketertimpaan antara sifat. Kalau tidak ada ketertimpaan tidak bisa
hidup. Contohnya bernapas, hidung tertimpa oleh oksigen. Kalau tidak ada
peristiwa itu kamu tidak akan hidup. Memandang, pandanganmu sudah menimpa orang
lain. Ketika kamu memikirkan orang yang kamu cintai, pikiranmu sudah menimpa
dia. Doa juga begitu, Kalau kita mendoakan seseorang, doa kita sudah menimpa
kepadanya.
Ada beberapa istilah
dalam berfilsafat dari pandangan filsuf dan dilihat dari aspek spiritual, “Sebenar-benar
saya melihat mayat-mayat berjalan karena mereka tidak dalam keadaan berpikir”.
Dalam kacamata aspek spiritual, “Sebenar-benar saya melihat mayat-mayat
berjalan karena tidak dalam keadaan berdoa”.
Tiadalah orang yang mampu
sebenar-benar menguasai ruang dan waktu, yang ada hanyalah berusaha. Maka orang
itu menguasai ruang atau waktu jika dia itu ada. Yang dimaksud ada adalah punya
kesadaran disitu. Punya kesadaran di ruang yang semestinya dia ada. Sebaliknya,
dia terancam kematian, orang yang tidak berada di ruang dan waktu yang tepat. Maka
“Sebenar-benar manusia bahagia itu jika sesuai ruang dan waktunya”.