Belajar filsafat itu dapat kita
lakukan salah satunya dengan membaca,
membaca, dan membaca. Disini diperlukan keikhlasan baik ikhlas dalam hati dan
ikhlas dalam pikiran. Bahayanya orang berfilsafat adalah ketika dia sudah
sampai pada tahap jelas dikarenakan sudah tidak berpikir lagi. Sedangkan
sebenar-benarnya filsafat adalah berpikir. Filsafat adalah diri kita sendiri,
maksutnya Pikirkan apa yang kamu kerjakan, kerjakan apa yang kamu pikirkan,
doakan. Doakan apa yang kamu kerjakan dan doakan apa yang kamu pikirkan. Makna
filsafat itu luas karena filsafat itu siapa saja, apa saja yang ada dan yang
mungkin ada.
Filsafat itu bertingkat-tingkat, yang
paling tinggi itu pasti/mutlak/absolut/bahasa Tuhan. Engkau ada di pikiran jika
filsafat. Engkau ada di hati jika spiritual. Filsafat itu pola pikir yaitu dari
ADA (menyangkut fatal dan vital)-MENGADA (proses)-PENGADA (hasil). Persoalan
filsafat itu hanya ada dua, yaitu memahami apa yang ada di luar pikiran dan
menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang
mampu menjelaskan pikirannya. Maka sebenar-benarnya kita tidak ada satu
orangpun di dunia yang mampu menjelaskan pikirannya sendiri, yang ada hanya
berusaha. Prinsip di dunia ini adalah kontradiksi karena aku tidak sama dengan
aku. Karena terikat oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu kita berpikir profesional,
eksperimen. Bagaimana dunia ini kalau tidak ada ruang hanya waktu saja, dunia
akan kiamat. Begitu sebaliknya. Jadi fatal dan vital itu potensi semuanya. Manusia,
binatang, tumbuhan bisa tumbuh karena ada potensi fatal dan vital. Jika
diformalkan, objek filsafat itu objek formal dan material. Objek filsafat formal
itu bentuk, material itu substansi. Semua di dunia terdiri dari bentuknya dan
isinya. Kamu senyum, cemberut, tertawa, tegang, serius, santai, memang
bentuknya seperti itu. Tetapi di balik senyuman, tawa, canda, ceria, itu
substansinya.
Jika filsafat itu adalah dirimu,
spiritualitas adalah dirimu. Jangan coba-coba menggambarkan spiritualitas dengan
dunia, karena dunia tidak mencukupinya. Sedangkan spiritualitas meliputi dunia
dan akhirat. Manusia yang paling tinggi itu manusia yang habluminallah dan minannas.
Habluminallah dan minannas itu manusia annas, manusia jejaring sistemik.
Jejaring sistemik simboliknya itu jurnal. Jadi jurnal adalah lambang manusia
jejaring sistemik yang paling tinggi (konteks akademisi).
Hati adalah roda bawah, pikiran
adalah roda atas. Perjalananmu itu adalah roda yang berputar. Jadi setiap hari
kita perlu memikirkan perasaan kita dan merasakan pikiran kita. Teladannya
adalah bumi mengelilingi matahari, tidak akan sampai pada tempat yang sama
selama hidup. Disamping dia berputar pada porosnya, dia juga mengelilingi
matahari. Engkau juga begitu. Disamping saya berputar pada porosnya (hati dan
pikiran), makan sehat setiap hari, bangun tidur, melakukan hal demikian setiap
hari tapi engkau tidak menyadarinya. Urusan spiritual itu agama masing-masing.
Cara mengetahui dengan prediksi, hidup itu pilihan. Tanpa memilih manusia tidak
akan bisa hidup. Setiap hari kamu makan, engkau memilih apa yang kamu makan.
Maka sebenar-benar hidup adalah pilihan. Ikhtiar itu memilih. Kalau sudah
terpilih itu takdir. Maka hidup itu perputaran antara ikhtiar dan takdir. Pilih
dan terpilih. Sadar maupun tidak sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar