Senin, 12 November 2018

FILSAFAT 3


Filsafat itu ada dimana-mana dan sangat dekat dengan kehidupan kita. Filsafat itu bertingkat-tingkat, dari material, formal, normative, dan spiritual. Puncak tertinggi dalam berfilsafat adalah aspek spiritual. Berfilsafat adalah bagaimana penjelasanmu, seberapa jauh uraianmu itu. Tapi tidak menjelaskan bahwa itu penjelasan, bukan penjelasan tapi penjelasan. Binatang, tumbuhan, batu yang berpikir itu seperti apa. Batu cenderung di bawah, pasir di atas selalu begitu. Batu besar cenderung sulit hanyut. Jadi pikiran para batu adalah kodratnya. Hukum alam itu pikiran para batu. Hukum alam ada sifat, naluriah. Karena suatu hal, keadaan. Keadaan satu menarik keadaan lain. Keadaan menimpa atau keadaan yang ditimpa. Setiap saat kita menimpa atau ditimpa. Maka sebenar-benar hidup adalah sifat.
Sebenar-benar hidup adalah ketertimpaan antara sifat. Kalau tidak ada ketertimpaan tidak bisa hidup. Contohnya bernapas, hidung tertimpa oleh oksigen. Kalau tidak ada peristiwa itu kamu tidak akan hidup. Memandang, pandanganmu sudah menimpa orang lain. Ketika kamu memikirkan orang yang kamu cintai, pikiranmu sudah menimpa dia. Doa juga begitu, Kalau kita mendoakan seseorang, doa kita sudah menimpa kepadanya.
Ada beberapa istilah dalam berfilsafat dari pandangan filsuf dan dilihat dari aspek spiritual, “Sebenar-benar saya melihat mayat-mayat berjalan karena mereka tidak dalam keadaan berpikir”. Dalam kacamata aspek spiritual, “Sebenar-benar saya melihat mayat-mayat berjalan karena tidak dalam keadaan berdoa”.
Tiadalah orang yang mampu sebenar-benar menguasai ruang dan waktu, yang ada hanyalah berusaha. Maka orang itu menguasai ruang atau waktu jika dia itu ada. Yang dimaksud ada adalah punya kesadaran disitu. Punya kesadaran di ruang yang semestinya dia ada. Sebaliknya, dia terancam kematian, orang yang tidak berada di ruang dan waktu yang tepat. Maka “Sebenar-benar manusia bahagia itu jika sesuai ruang dan waktunya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar